Top Ad unit 728 × 90

PINTU

"pintu" cerpen fiksi pertama yang gue bikin, dan cerita yang pertama kali gue garap dengan kata-kata yang agak sedikit serius. cerpen ini gue dibikin cuma untuk ikutan #ProyekMenulis nya Nulisbuku.com :berkah dibulan Ramadhan". Dari ribuann cerpen bakal diambil 200judul cerpen perorangan maupun kolaborasi yang nantinya akan dibukukan. Ga tau jurinya lagi galau atau jurinya kecapean buat nyeleksi ribuan cerpen yang  masuk dan dipilih jadi 200 judul cerpen yang akan dijadikan buku. jadi buat mahasiswa yang seneng baca cerpen beli aja bukunya di www.nulisbuku.com atau baca cerita dibawah ini. kapan lagi baca tulisan di blog ini agak serius? selamat membaca. :))

PINTU
            Jakarta. Bagi sebagian kota ini memiliki daya tarik tersendiri, entah dari gemerlapnya ibu kota yang terdengar sampai ke ujung nusantara yang membuat sebagian masyarakat pelosok menggantungkan harapan besar dan mimpi-mimpinya dikota ini.
            Mulai dari orang-orang besar sampai para “pengemis kehidupan” rela bertahan untuk menjajakan mimpinya dikota ini. Apa karena gambaran media yang selalu menonjolkan kemegahan ibukota ini atau hanya karena dorongan dari sanak saudara yang selalu berakting bak orang sukses ketika pulang kekampungnya menjelang bulan ramadhan? Tidak ada yang tahu. Kota ini menyimpan banyak misteri dan harapanyang belum pasti bagi penggantung mimpi yang berkeliaran diluar sana.
            Matahari siang ini begitu menyengat ke beberapa bagian celah  di pulau khatulistiwa. Siang itu panas menusuk kedalam pori-pori ini menghampiri pemuda yang sedang terduduk lesu diatas bangku  halte kota metropolitan ini. Wajah berminyak, rambut kusut dan bau badan yang biasa menempel sudah menjadi hal biasa bagi remaja setengah dewasa ini. Baginya hidup dijalanan lebih baik dan nyaman daripada hidup bergelimang harta didalam rumah besar bak istana tetapi diisi oleh orang-orang yang mementingkan egonya masing-masing.
            Pemuda itu gue. Rahmat. Mungkin ketika kalian memabaca prolog diawal paragraf tadi kisah ini termasuk kisah sedih yang mendramatisir, kisah tentang beratnya menjalani kehidupan yang sering di ceritain di Ftv siang yang pemeran dan jalan ceritanya itu-itu aja. Mulai dari cerita pacaran anak remaja SMA sampai perjodohan anak kuliah yang nulis skripsi aja masih belok-belok ga ada arah tujuan. Ga.. cerita ini ga bakal kayak yang ada di tipi-tipi, cerita ini tentang hidup gue, tentang dimana lo harus berlari mengejar sesuatu bukan malah berjalan santai dan merenungi nasib yang lo terima begitu aja.
            Cerita ini tentang kehidupan gue. Kehidupan dimana gue harus berusaha mencari pintu-pintu yang  gue sendiri ga tau arah nya bakal kemana.  Yah sama persis apa yang orang-orang dulu bilang, “If you never try, you never know” jika kalian ga pernah mencoba semua pintu itu, kalian ga akan tau ada apa dibalik pintu-pintu itu.
            Pintu pertama yang gue lewati adalah pintu keluarga. Kalian pernah merasakan yang namanya “broken home” ? pernah merasakan atmosfir rumah besar yang banyak dimimpi-mimpikan keluarga-keluarga lainya berubah seketika menjadi neraka dunia? Pernah merasakan keputus asaan dan berharap ga pernah dilahirkan ke dunia ini? Pernah merasa hampa ketika kalian memiliki segalanya? Ituyang gue rasain pas ngelewatin pintu pertama ini.
            Setiap hari hanya mendengar “mereka” memperdebatkan hal yang ga penting. Entah berapa perabotan yang udah mereka lempar setiap harinya. Ayah yang seharusnya menjadi pemimpin bagi keluarganya ini malah kabur bersama wanita yang mereka sebut “pelacur”.  Mendengar rintihan tangisan seorang ibu yang udah membesarkan gue sampai saat ini udah jadi santapan setiap malam. Gue memiliki segalanya disini tapi entah kenapa gue tetap merasakan kekosongan dan kehampaan didalam rumah ini.
“ pintu macam apa ini? Apa ini yang disebut pintu neraka?” bahkan batin gue berkata seperti itu.
            Semenjak perpisahan “mereka” gue mulai mencari pintu-pintu lainnya dan menggantungkan harapan yang besar ke pintu selanjutnya. Kapok? Ga gue ga akan pernah kapok mencari pintu yang sesuai dengan harapan dan mimpi gue.  Kalo gue kapok mungkin tali jemuran dibelakang rumah udah jadi senjata gue untuk mengakhirinya. Tapi bagi gue hal itu Cuma buat orang-orang yang berfikiran sempit, yang ga tau betapa berharga dan betapa masih banyaknya pintu-pintu yang harus mereka lewatin.
            Gue keluar dari pintu pertama dan mulai membuka pintu lainnya. Pintu kedua yang gue lewati adalah pintu “Pertemanan”. Pertama kalinya gue menginjakkan kaki kebalik pintu ini, gue merasa “inilah pintu yang selama ini gue cari...”. kehangatan yang bahkan melebihi kehangatan dalam rumah sendiri yang membuat gue nyaman berada dibalik pintu ini. Kami saling merangkul, bahkan waktu yang dulu gue rasa berjalan lambat sekarang mulai terasa cepat ketika bersama mereka. Sampai suatu saat, gue merasa berada di tempat yang salah.
            “bro, obat ini bakalan ngebawa lu ke dunia yang lu mau, ke dunia yang selalu lu impiin bro... udah pake aja ga usah mikir segala... lu ga percaya sama temen lu sendiri..?? “ tawar rudi teman baikgue.
Seseorang yang udah lama gue anggap keluarga gue sendiri ternyata udah lama menjadi pengedar obat-obatan terlarang  dilingkungan ini. Gue mulai jatuh ketitik hitam dimana gue ga tau itu benar atau salah.  Sekali lagi gue terjerumus kealam neraka dunia. Sampai gue tersadar didalam rumah sakit sempit dan berdiri seorang wanita dengan paras cantik disebelah tempat tidur gue.
“kamu siapa??ini dimana??” tanya gue sambil membangunkan dia yang entah udah berapa lama disana.
“aku sella, kamu di rumah sakit, aku ngeliat kamu jatuh didepan halte tempat aku biasa nunggu bus.” jawab dia sambil mengikat rambutnya.  Gue Cuma bisa bengong melihat kecantikan nya saat mengikat rambutnya. “Bidadari..” ucap gue polos tanpa pikir panjang. Kecanggungan menyelimuti ruangan UGD itu.
“ gakkk!! Gue harus keluar dari sini...!!” dengan cepat gue lempar selimut dan beranjak dari tempat tidur rumah sakit itu.
“jangann!! Kamu baru sadar..  istirahat dulu.. nih makan dulu.. aku suapin yah.. “ ucapnya dengan lembut sambil mengambil mangkuk yang ada disamping tempat tidur gue.
“ hah.. eh... iya... “ ucap gue malu-malu. Hawa panas yang terasa dibagian wajah dan detak jantung yang berdetak cepat menyadarkan gue kalo gue udah masuk kepintu ketiga. Pintu “Cinta”.
Tiga bulan kami bersama semua terasa indah, sekali lagi gue menggantungkan harapan dan mimpi besar gue di pintu ketiga ini. Dan sekali lagi kebenaran mulai menghampiri gue. Minggu itu entah kenapa gue kembali kerumah yang ga ada bedanya sama neraka itu sendirian. Gue mulai memasuki pintu pertama lagi dan ternyata mendapatkan sebuah kebenaran yang ga pernah gue duga. Ketika pintu pertama gue buka, Sella dan ayah keluar dari kamar.
Entah apa yang terjadi didalam sana. Perasaan panas mendidih sampai keubun-ubun kepala udah ga bisa gue tahan lagi. Sella wanita yang selalu gue anggap “bidadari” ternyata adalah orang yang sama seperti yang mereka selalu katakan. “pelacur”.
Pintu pertama sukses gue banting dengan sekuat tenaga. Sekali lagi gue keluar dari rumah itu dengan kekecewaan yang luarbiasa. dan sekali lagi pintu yang gue pilih adalah pintu neraka.
Tempat pelarian yang paling pas menurut gue saat itu adalah pintu kedua. Ketika gue sampai didepan pintu kedua. Terlihat bendera berwarna kuning yang ga biasanya tertancap dipintu rumah rudi . sesampainya didalam, gue melihat tubuh rudi yang terbujur kaku dan dibungkus kain putih. “Rudi meninggal Over dosis”. Ucap wanita tua yang masih menahan tangis didalam dirinya.
Melihat teman seperjuangan gue dulu berakhir seperti itu membuat seakan langit tertawa meledek melihatnya. Gue berlari sekencang-kencangnya entah sampai sejauh mana gue berlari tanpa arah, sampai kaki gue terhenti tepat didepan pintu terakhir. Pintu “Tuhan”.
Sore itu banyak orang-orang disekeliling pintu ini. Mereka bersiap-siap seakan hendak merayakan  sesuatu. Suara itu berkumandang ditelinga gue. Suara yang hampir beberapa tahun ini gue abaikan. Suara Takbir. Sesaat terasa hentakan didadalm dada gue, tanpa pikir panjang gue masuk kedalam pintu terakhir ini. Berbeda dari pintu-pintu terasa sampai ketulang rusuk . Perasaan Inilah yang dulu guru ngaji gue sering katakan. “pintu TUHAN”. Gue sadar mungkin Inilah yang disebut kejutan sebelum Ramadhan.  
Semenjak gue masuk kedalam pintu ini, keraguan yang selalu menyelimuti hati gue sirna begitu saja. Perasaan tenang, damai.. selalu terasa tiap menit maupun detik. Gue juga ga tau kenapa, yang jelas berada disini terasa nyaman dan menenangkan. Setelah sebulan gue menjalani hidup dibalik pintu ini, gue tersadar akan perjalanan hidup yang udah gue lewati dan pintu-pintu yang udah pernah gue masukin.
 Diselimuti suara takbir yang menggema dimalam terakhir bulan ramadhan ini,gue terduduk disamping masjid tepat diteras ruangan yang biasa dipakai marbot sebagai tempat beristirahat. Terlintas nama-nama yang sudah tidak asing dan ga bisa gue lupain. Ayah..ibu...Rudi...Sella... mungkin mereka adalah orang-orang yang didatangkan untuk menunjukan pintu ini. Memang benar klo pintu yang gue masukin selalu salah, tapi dibalik semua itu tersimpan pintu-pintu lainnya yang emang udah gue impikan.
Mungkin kalo gue ga ketemu mereka gue ga akan menemukan pintu ini, mungkin gue ga akan menyadari kalo pintu yang udah gue pilih tuh ga semuanya salah, tapi hanya sebagian pintu kecil menuju pintu-pintu besar lainnya. Pintu yang menunjukan kebenaran.  Karena untuk mendapatkan sesuatu yang sangat bernilai tuh kalian harus berusaha sekeras mungkin bahkan berlari sekencang mungkin untuk mencapai tujuan kalian. Masuk kedalam titik terendah dimana kalian merasa dunia ini ga adil akan membawa kalian lebih dekat kepada diri-Nya.
Ini kisah hidup gue, dan ini yang bakal gue ceritain ke anak-anak bahkan cucu-cucu gue nantinya. Kemana mereka harus mencari pintu mereka sendiri, dengan usaha sendiri dan dengan kisah mereka sendiri.
Mungkin besok atau lusa gue bakal keluar dari pintu ini, dan mencari pintu-pintu besar lainnya. Entah itu akan berakhir sedih atau bahagia, gak masalah. Kemanapun kalian akan pergi, pasti kalian akan menemukan pintu-pintu yang harus kalian pilih sendiri dan jalani sendiri. Bahkan kita ga akan pernah tau dibalik pintu itu terdapat kebenaran atau tidak sebelum mencobanya. Inilah kejutan sebelum ramadhan gue.. sebuah pintu menuju kebenaran.

“Saat Tuhan menutup satu pintu, Tuhan membuka pintu yang lain. Kamu mungkin nggak pernah tahu karena terlalu sibuk mengurusi hidup yang sudah tertutup itu.”



PINTU Reviewed by Oki Jodi on 11:46 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by mahasiswasalahjurusan © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by Sweetheme

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.