PINTU
"pintu" cerpen fiksi pertama yang gue bikin, dan cerita yang pertama kali gue garap dengan kata-kata yang agak sedikit serius. cerpen ini gue dibikin cuma untuk ikutan #ProyekMenulis nya Nulisbuku.com :berkah dibulan Ramadhan". Dari ribuann cerpen bakal diambil 200judul cerpen perorangan maupun kolaborasi yang nantinya akan dibukukan. Ga tau jurinya lagi galau atau jurinya kecapean buat nyeleksi ribuan cerpen yang masuk dan dipilih jadi 200 judul cerpen yang akan dijadikan buku. jadi buat mahasiswa yang seneng baca cerpen beli aja bukunya di www.nulisbuku.com atau baca cerita dibawah ini. kapan lagi baca tulisan di blog ini agak serius? selamat membaca. :))
“Saat Tuhan menutup satu
pintu, Tuhan membuka pintu yang lain. Kamu mungkin nggak pernah tahu karena
terlalu sibuk mengurusi hidup yang sudah tertutup itu.”
PINTU
Jakarta. Bagi sebagian kota ini memiliki daya tarik
tersendiri, entah dari gemerlapnya ibu kota yang terdengar sampai ke ujung
nusantara yang membuat sebagian masyarakat pelosok menggantungkan harapan besar
dan mimpi-mimpinya dikota ini.
Mulai dari orang-orang besar sampai
para “pengemis kehidupan” rela bertahan
untuk menjajakan mimpinya dikota ini. Apa karena gambaran media yang selalu
menonjolkan kemegahan ibukota ini atau hanya karena dorongan dari sanak saudara
yang selalu berakting bak orang sukses ketika pulang kekampungnya menjelang
bulan ramadhan? Tidak ada yang tahu. Kota ini menyimpan banyak misteri dan
harapanyang belum pasti bagi penggantung mimpi yang berkeliaran diluar sana.
Matahari siang ini begitu menyengat
ke beberapa bagian celah di pulau
khatulistiwa. Siang itu panas menusuk kedalam pori-pori ini menghampiri pemuda
yang sedang terduduk lesu diatas bangku
halte kota metropolitan ini. Wajah berminyak, rambut kusut dan bau badan
yang biasa menempel sudah menjadi hal biasa bagi remaja setengah dewasa ini.
Baginya hidup dijalanan lebih baik dan nyaman daripada hidup bergelimang harta
didalam rumah besar bak istana tetapi diisi oleh orang-orang yang mementingkan
egonya masing-masing.
Pemuda itu gue. Rahmat. Mungkin
ketika kalian memabaca prolog diawal paragraf tadi kisah ini termasuk kisah
sedih yang mendramatisir, kisah tentang beratnya menjalani kehidupan yang
sering di ceritain di Ftv siang yang pemeran dan jalan ceritanya itu-itu aja.
Mulai dari cerita pacaran anak remaja SMA sampai perjodohan anak kuliah yang
nulis skripsi aja masih belok-belok ga ada arah tujuan. Ga.. cerita ini ga
bakal kayak yang ada di tipi-tipi, cerita ini tentang hidup gue, tentang dimana
lo harus berlari mengejar sesuatu bukan malah berjalan santai dan merenungi
nasib yang lo terima begitu aja.
Cerita ini tentang kehidupan gue.
Kehidupan dimana gue harus berusaha mencari pintu-pintu yang gue sendiri ga tau arah nya bakal
kemana. Yah sama persis apa yang
orang-orang dulu bilang, “If you never try,
you never know” jika kalian ga pernah mencoba semua pintu itu, kalian ga
akan tau ada apa dibalik pintu-pintu itu.
Pintu pertama yang gue lewati adalah
pintu keluarga. Kalian pernah merasakan yang namanya “broken home” ? pernah merasakan atmosfir rumah besar yang banyak
dimimpi-mimpikan keluarga-keluarga lainya berubah seketika menjadi neraka
dunia? Pernah merasakan keputus asaan dan berharap ga pernah dilahirkan ke
dunia ini? Pernah merasa hampa ketika kalian memiliki segalanya? Ituyang gue
rasain pas ngelewatin pintu pertama ini.
Setiap hari hanya mendengar “mereka” memperdebatkan hal yang ga
penting. Entah berapa perabotan yang udah mereka lempar setiap harinya. Ayah
yang seharusnya menjadi pemimpin bagi keluarganya ini malah kabur bersama
wanita yang mereka sebut “pelacur”. Mendengar rintihan tangisan seorang ibu yang
udah membesarkan gue sampai saat ini udah jadi santapan setiap malam. Gue
memiliki segalanya disini tapi entah kenapa gue tetap merasakan kekosongan dan
kehampaan didalam rumah ini.
“ pintu macam apa ini? Apa ini
yang disebut pintu neraka?”
bahkan batin gue berkata seperti itu.
Semenjak perpisahan “mereka” gue mulai mencari pintu-pintu
lainnya dan menggantungkan harapan yang besar ke pintu selanjutnya. Kapok? Ga
gue ga akan pernah kapok mencari pintu yang sesuai dengan harapan dan mimpi
gue. Kalo gue kapok mungkin tali jemuran
dibelakang rumah udah jadi senjata gue untuk mengakhirinya. Tapi bagi gue hal
itu Cuma buat orang-orang yang berfikiran sempit, yang ga tau betapa berharga
dan betapa masih banyaknya pintu-pintu yang harus mereka lewatin.
Gue keluar dari pintu pertama dan
mulai membuka pintu lainnya. Pintu kedua yang gue lewati adalah pintu
“Pertemanan”. Pertama kalinya gue menginjakkan kaki kebalik pintu ini, gue
merasa “inilah pintu yang selama ini gue
cari...”. kehangatan yang bahkan melebihi kehangatan dalam rumah sendiri
yang membuat gue nyaman berada dibalik pintu ini. Kami saling merangkul, bahkan
waktu yang dulu gue rasa berjalan lambat sekarang mulai terasa cepat ketika
bersama mereka. Sampai suatu saat, gue merasa berada di tempat yang salah.
“bro,
obat ini bakalan ngebawa lu ke dunia yang lu mau, ke dunia yang selalu lu
impiin bro... udah pake aja ga usah mikir segala... lu ga percaya sama temen lu
sendiri..?? “ tawar rudi teman baikgue.
Seseorang yang udah lama gue
anggap keluarga gue sendiri ternyata udah lama menjadi pengedar obat-obatan
terlarang dilingkungan ini. Gue mulai
jatuh ketitik hitam dimana gue ga tau itu benar atau salah. Sekali lagi gue terjerumus kealam neraka
dunia. Sampai gue tersadar didalam rumah sakit sempit dan berdiri seorang
wanita dengan paras cantik disebelah tempat tidur gue.
“kamu siapa??ini dimana??” tanya gue sambil membangunkan
dia yang entah udah berapa lama disana.
“aku sella, kamu di rumah sakit,
aku ngeliat kamu jatuh didepan halte tempat aku biasa nunggu bus.” jawab dia sambil mengikat
rambutnya. Gue Cuma bisa bengong melihat
kecantikan nya saat mengikat rambutnya.
“Bidadari..” ucap gue polos tanpa pikir panjang. Kecanggungan menyelimuti
ruangan UGD itu.
“ gakkk!! Gue harus keluar dari
sini...!!” dengan
cepat gue lempar selimut dan beranjak dari tempat tidur rumah sakit itu.
“jangann!! Kamu baru sadar.. istirahat dulu.. nih makan dulu.. aku suapin
yah.. “ ucapnya
dengan lembut sambil mengambil mangkuk yang ada disamping tempat tidur gue.
“ hah.. eh... iya... “ ucap gue malu-malu. Hawa panas
yang terasa dibagian wajah dan detak jantung yang berdetak cepat menyadarkan
gue kalo gue udah masuk kepintu ketiga. Pintu “Cinta”.
Tiga bulan kami bersama semua
terasa indah, sekali lagi gue menggantungkan harapan dan mimpi besar gue di
pintu ketiga ini. Dan sekali lagi kebenaran mulai menghampiri gue. Minggu itu entah
kenapa gue kembali kerumah yang ga ada bedanya sama neraka itu sendirian. Gue
mulai memasuki pintu pertama lagi dan ternyata mendapatkan sebuah kebenaran
yang ga pernah gue duga. Ketika pintu pertama gue buka, Sella dan ayah keluar
dari kamar.
Entah apa yang terjadi didalam
sana. Perasaan panas mendidih sampai keubun-ubun kepala udah ga bisa gue tahan
lagi. Sella wanita yang selalu gue anggap “bidadari” ternyata adalah orang yang
sama seperti yang mereka selalu katakan. “pelacur”.
Pintu pertama sukses gue banting
dengan sekuat tenaga. Sekali lagi gue keluar dari rumah itu dengan kekecewaan
yang luarbiasa. dan sekali lagi pintu yang gue pilih adalah pintu neraka.
Tempat pelarian yang paling pas
menurut gue saat itu adalah pintu kedua. Ketika gue sampai didepan pintu kedua.
Terlihat bendera berwarna kuning yang ga biasanya tertancap dipintu rumah rudi
. sesampainya didalam, gue melihat tubuh rudi yang terbujur kaku dan dibungkus
kain putih. “Rudi meninggal Over dosis”.
Ucap wanita tua yang masih menahan tangis didalam dirinya.
Melihat teman seperjuangan gue
dulu berakhir seperti itu membuat seakan langit tertawa meledek melihatnya. Gue
berlari sekencang-kencangnya entah sampai sejauh mana gue berlari tanpa arah, sampai
kaki gue terhenti tepat didepan pintu terakhir. Pintu “Tuhan”.
Sore itu banyak orang-orang
disekeliling pintu ini. Mereka bersiap-siap seakan hendak merayakan sesuatu. Suara itu berkumandang ditelinga
gue. Suara yang hampir beberapa tahun ini gue abaikan. Suara Takbir. Sesaat
terasa hentakan didadalm dada gue, tanpa pikir panjang gue masuk kedalam pintu
terakhir ini. Berbeda dari pintu-pintu terasa sampai ketulang rusuk . Perasaan
Inilah yang dulu guru ngaji gue sering katakan. “pintu TUHAN”. Gue sadar mungkin Inilah yang disebut kejutan
sebelum Ramadhan.
Semenjak gue masuk kedalam pintu
ini, keraguan yang selalu menyelimuti hati gue sirna begitu saja. Perasaan
tenang, damai.. selalu terasa tiap menit maupun detik. Gue juga ga tau kenapa,
yang jelas berada disini terasa nyaman dan menenangkan. Setelah sebulan gue
menjalani hidup dibalik pintu ini, gue tersadar akan perjalanan hidup yang udah
gue lewati dan pintu-pintu yang udah pernah gue masukin.
Diselimuti suara takbir yang menggema dimalam
terakhir bulan ramadhan ini,gue terduduk disamping masjid tepat diteras ruangan
yang biasa dipakai marbot sebagai tempat beristirahat. Terlintas nama-nama yang
sudah tidak asing dan ga bisa gue lupain. Ayah..ibu...Rudi...Sella... mungkin
mereka adalah orang-orang yang didatangkan untuk menunjukan pintu ini. Memang
benar klo pintu yang gue masukin selalu salah, tapi dibalik semua itu tersimpan
pintu-pintu lainnya yang emang udah gue impikan.
Mungkin kalo gue ga ketemu mereka
gue ga akan menemukan pintu ini, mungkin gue ga akan menyadari kalo pintu yang
udah gue pilih tuh ga semuanya salah, tapi hanya sebagian pintu kecil menuju
pintu-pintu besar lainnya. Pintu yang menunjukan kebenaran. Karena untuk mendapatkan sesuatu yang sangat
bernilai tuh kalian harus berusaha sekeras mungkin bahkan berlari sekencang
mungkin untuk mencapai tujuan kalian. Masuk kedalam titik terendah dimana
kalian merasa dunia ini ga adil akan membawa kalian lebih dekat kepada
diri-Nya.
Ini kisah hidup gue, dan ini yang
bakal gue ceritain ke anak-anak bahkan cucu-cucu gue nantinya. Kemana mereka
harus mencari pintu mereka sendiri, dengan usaha sendiri dan dengan kisah
mereka sendiri.
Mungkin besok atau lusa gue bakal
keluar dari pintu ini, dan mencari pintu-pintu besar lainnya. Entah itu akan
berakhir sedih atau bahagia, gak masalah. Kemanapun kalian akan pergi, pasti kalian
akan menemukan pintu-pintu yang harus kalian pilih sendiri dan jalani sendiri. Bahkan
kita ga akan pernah tau dibalik pintu itu terdapat kebenaran atau tidak sebelum
mencobanya. Inilah kejutan sebelum ramadhan gue.. sebuah pintu menuju
kebenaran.
“Saat Tuhan menutup satu
pintu, Tuhan membuka pintu yang lain. Kamu mungkin nggak pernah tahu karena
terlalu sibuk mengurusi hidup yang sudah tertutup itu.”
PINTU
Reviewed by Oki Jodi
on
11:46 AM
Rating:
Tidak ada komentar: